Manifesto

Kopi dan Petani Kopi Kita

Kopi sering disebut sebagai komoditas no 2 yang paling banyak dikapalkan setelah minyak bumi. Tentu ini bukan fakta yang benar, sekedar menggambarkan betapa banyaknya kopi yang diperdagangkan dalam transaksi perdagangan internasional. Banyak negara yang memiliki tingkat konsumsi kopi teramat tinggi. Yang tertinggi adalah Finlandia yang mencapai 12 kg per kapita (rerata per orang per tahun). Pada umumnya negara-negara di Eropa, Amerika dan Australia memiliki tingkat konsumsi kopi yang tinggi. Ditambah kecenderungan dewasa ini yang terjadi di beberapa negara asia yang mulai turut memiliki banyak peminum kopi, seperti di; Jepang, Korea, China dan Singapura.

Sedangkan tak semua negara dapat membudidayaan kopi. Kopi hanya bisa tumbuh di wilayah tropis. Pada tataran rasa, kopi berpotensi akan memiliki rasa yang lebih nikmat bila ditanam di dataran tinggi. Indonesia memiliki banyak sebaran daerah yang berpotensi menghasilkan kopi berkwalitas tinggi.

Tingkat konsumsi kopi di Indonesia masih rendah, perkapita hanya 0,3 kg. Belum lagi bila dilihat kesadaran kwalitas kopi yang diminum oleh peminum kopi di Indonesia. Hal ini bisa pula dimaknai sebagai peluang pasar baru peminum kopi.

Banyak lokasi kebun kopi di Indonesia yang memiliki potensi yang layak untuk dikembangkan kopi berkwalitas specialty coffee. Kopi juga memiliki potensi strategis untuk mensejahterakan petani Indonesia. Secara sederhana tanaman dibagi menjadi 3; tanaman pangan, tanaman holtikultura dan tanaman industri. Kondisinya di Indonesia bila petani hanya berkutat di tanaman pangan; ia akan (lebih) susah sejahtera. Setidaknya karena pemerintah merasa berkepentingan menekan harga pangan. Tanaman industri lebih prospektif untuk mensejahterakan petani.

Kopi juga memiliki keunggulan lain yakni sangat mudah dibudidayakan. Secara empiris teknik budidaya kopi yang terjadi di Indonesia nyaris tak berbeda dengan yang terjadi di masa tanam paksa (cultuurstelsel 1830 sampai 1890).

Permasalahan Petani Kopi Pada Umumnya di Indonesia

Ada beberapa permasalahan petani kopi yang mirip terjadi di permasalahan pada umumnya petani komoditas lain di Indonesia. Dari program-program yang digagas oleh pemerintah, terlihat setidaknya petani di Indonesia memiliki masalah pada;

  1. Rendahnya harga yang didapat petani apabila dibandingkan dengan harga beli konsumen akhir. Ini terjadi karena panjangnya rantai distribusi dari petani hingga konsumen. Juga terjadi karena praktek tengkulak dan oligopoli. Pemerintah berupaya menyelesaikan masalah ini salah satunya dengan memperbaiki pola perdagangan melalui sistem resi gudang dan perdagangan berjangka (forward contract).
  2. Merosotnya jumlah petani. Di sensus pertanian tahun 2013 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) terungkap selama 10 tahun terakhir jumlah keluarga petani di Indonesia berkurang 16% atau sejumlah 5,04 juta keluarga petani.
  3. Rendahnya produktivitas petani yang berefek pada rendahnya kesejahteraan petani. Ini akan sangat berasa bila dibandingkan dengan nasib petani dari banyak negara lain.

Permasalahan yang pada umumnya ada di petani Indonesia ini juga mudah ditemui di petani-petani kopi. Ditambah lagi permasalahan-permasalahan khas petani kopi di Indonesia, antara lain;

  1. Rendahnya pengetahuan petani kopi terhadap pola konsumsi konsumen kopi. Sebagai tanaman industri, kopi dikonsumsi dengan karakter konsumsi yang beragam. Kopi bisa dinikmati dengan karakter kopi pasaran, kopi sebagai identitas gaya hidup hingga kopi sebagai produk artisanal. Pada umumnya petani hanya paham cara konsumsi kopi sebagai produk kopi pasaran yang memang berharga paling rendah. Petani tak cukup punya imaginasi dan pengetahuan untuk meningkatkan daya tawar produk mereka.
  2. Adanya praktek oligopoli yang memanfaatkan dan mempertahankan ketidaktahuan petani kopi atas produk mereka dan pasar atas produk mereka. Pada akhirnya para pedaganglah yang menikmati porsi yang lebih banyak atas harga beli kopi yang ditebus oleh konsumen green bean.
  3. Rendahnya kolaborasi dan berbagi pengetahuan antar petani kopi di Indonesia.
  4. Petani tak memiliki imaginasi untuk mengupgrade diri menjadi artisan kebun; petani yang mumpuni secara pengetahuan tehnik bertani serta menyematkan olah kreativitas dan rasa seni pada profesinya.
  5. Tak ada kolaborasi antar artisan yang terlibat di proses kopi untuk memajukan kopi Indonesia
  6. Tak ada organisasi petani kopi yang berupaya meningkatkan kesejahteraan petani kopi secara terorganisir dan sistematis.

Permasalahan Non-teknis Petani Kopi

Permasalahan petani kopi di Indonesia bukan hanya pada hal teknis yang menyangkut budidaya dan perdagangan kopi. Ada masalah yang perlu diselesaikan bareng dengan hal teknis perkopian. Masalah tersebut antara lain;

  1. Logika pangan. Hampir semua petani kopi merupakan penggarap kebun atau ladang. Mereka tak memiliki sawah untuk ditanami padi. Tetapi mereka pemakan nasi yang didapat dengan cara membeli. Membicarakan permasalahan kesejahteraan bukan hanya pada area pemasukan atau pendapatan saja, tapi juga area pengeluaran atau pembelajaan. Setiap petani termasuk petani kopi perlu sadar bahwa kodrat mutlak petani adalah tak perlu beli untuk kebutuhan pangan.
    Tingginya ketergantungan petani kopi terhadap nasi perlu diakhiri dengan mengenalkan asupan lain yang bisa mereka tanam sendiri. Di Indonesia ada 76 tanaman pangan bahan pokok selain padi, yang minimal salah satunya bisa ditanam di wilayah manapun.
  1. Persepsi dasar konsepsi pendidikan. Ini meruakan salah satu ujung permasalahan pertanian di Indonesia; dari kwalitas, produktivitas hingga berkurangnya jumlah petani.
    Ada kredo ‘pendidikan adalah investasi’ yang diamini oleh banyak orang Indonesia. Ketika dianggap investasi, banyak yang mengangap tujuan pendidikan adalah return; imbal balik investasi. Kondisi ini menciptakan adanya kasta pekerjaan. Ada yang berkasta tinggi karena return yang cepat seperti pekerjaan dokter, insinyur, polisi dll. Dan petani adalah kasta pekerjaan terendah.
    Persepsi ini perlu diperbaiki dengan membuat orang paham bahwa tujuan pendidikan bukanlah untuk membuat orang per orang menjadi kaya raya. Tujuan pendidikan adalah untuk membuat orang menjadi baik dan dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan ke pekerjaannya dengan baik. Menjadi dokter; dokter yang baik yang mampu mengaplikasi ilmu kedokteran dengan baik. Menjadi petani; petani yang baik yang mampu mengaplikasikan ilmu pertanian dengan baik.
  1. Rendahnya rasa kebanggaan pada diri petani atas pekerjaannya.

Rekomendasi Solusi Permasalahan Petani Kopi di Indonesia

Ada tiga hal utama yang direkomendasikan terjadi untuk menyelesaikan perasalahan petani kopi di Indonesia.

  1. Mempraktekkan prinsip-prinsip keadilan universal dalam perdagangan kopi.
  2. Membentuk koperasi di tiap sentra-sentra kopi. Koperasi ini juga berperan sebagai lembaga yang memfasilitasi terjadinya pola direct trade. Tiap koperasi juga berkolaborasi dengan koperasi lain yang dibakukan dalam bentuk koperasi sekunder.
  3. Menyelesaikan permasalahan petani yang non-teknis. Yakni pada masalah logika pangan, persepsi dasar konsepsi pendidikan dan dignity

Atas kesadaran ini, wikikopi menegaskan diri dalam manifesto sebagai berikut;


 

Manifesto WIKIKOPI

Petani kopi kita, petani kopi nusantara, yang menyuapi kita, terpaksa membubuhkan air mata, dipaksa mengkhianati cita rasa dengan tangis dalam setiap dulang yang mengaliri darah kita. Mereka diekspolitasi dengan membiarkan tak terdidik. Kesejahteraan Petani hanya bisik kelu dalam dengung alam mimpi, dan berhenti di sana.

Kami, dengan kerendahan hati, meminjam ilmu pengetahuan, insyaf, menyadari bahwa “kebalauan sensitif terhadap kondisi mula”. Petani adalah kondisi mula itu, sekaligus–yang dengan manis pernah kita ingkari–mereka merupakan benteng terakhir kemandirian pangan bangsa. Keberaksaraan mereka adalah prasyarat, keniscayaan.

Kami, bersama petani kopi nusantara dan siapa saja yang bernalar sehat, bergumul bersama dalam cita-cita akan hidup yang berkelanjutan, memperjuangkan Martabat.

Yogyakarta, 20 Mei 2015

Comments are closed