Artisan Kopi

Salah satu bahasan dalam 3rd wave coffee adalah kolaborasi antara 3 artisan di kopi; artisan kebun, artisan roaster dan artisan brewer-barista. Kopi tidak lagi diapresiasi sebagai sekedar produk atau komoditi, tapi lebih ke artisanal foodstuff.

Tak ada kurikulum atau tahapan pasti yang kudu dijalani untuk menjadi seorang artisan di kopi. Ini didominasi ranah seni.

Membedakan seorang barista dan artisan barista pun bisa gampang-gampang susah. Titik pembedanya sering terlihat di daya penciptaan. Seperti halnya di dunia lukis; ada pelukis yang seniman lukis, ada yang sekedar tukang gambar. Si tukang gambar pun bisa membuat gambar yang sama persis dengan karya si seniman lukis.

Pak Wildan Ciwidey Java Halu

Beda mereka bisa juga dilihat dari konteks hirarki pengetahuan. Secara sederhana pengetahuan manusia dapat digolongkan dari jenjang ‘what‘ lalu ‘how‘ dan pemahaman tertingginya adalah ‘why‘.

Seorang barista yang masih belajar mengaplikasikan SOP (standard operating procedure) mengoperasikan mesin sudah pasti bukan artisan. Karena SOP masih pada jenjang pemahaman ‘what‘. Seorang artisan barista tak hanya sangat mumpuni pada pemahaman ‘why’, namun ia juga menyematkan daya penciptaan (pada hal rasa) pada setiap karyanya. Ia juga menyematkan passion dan mental pebelajar untuk menjadi pakar di bidangnya.

Sosok artisan inilah yang kami temui kemarin saat bersua dengan Pak Haji Wildan. Dalam mengelola kebun kopinya, dia tak lagi berpatokan pada SOP. Dia membuat banyak inovasi yang melahirkan banyak best practice baru.

One Comment:

  1. jadi begitu ya..jadi mengerti..terima kasih infonya..

Leave a Reply to lukman Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>